Sosiologi Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan


       Salah satu aplikasi sosiologi adalah sosiologi pendidikan. Sosiologi merupakan sebuah disiplin yang dihasilkan dari “persilangan” antara ilmu pendidikan dengan sosiologi. Sosiologi pendidikan merupakan salah satu cara Sosiologi memfokuskan kajiannya pada masalah pendidikan, baik secara umum maupun khusus. Sosiologi pendidikan dapat dikatakan sebagai sebuah ilmu pengetahuan karena telah memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai ilmu pengetahuan. Adapun syarat atau unsur pokoknya adalah :

1)      Memiliki unsur pengetahuan

Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna. Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut. Perbedaan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan adalah terletak pada konsep dari keduanya, dimana pengetahuan lebih spontan sifatnya, sedangkn ilmu pengetahuan lebih sistematis dan reflektif, sesuai dengan pengertiannya bahwa ilmu pengetahuan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis. Dengan demikian pengetahuan jauh lebih luas daripada ilmu pengetahuan karena pengetahuan mencakup segala sesuatu yang diketahui manusia tanpa perlu berarti telah dibakukan secara sistematis. Pengetahuan mencakup penalaran, penjelasan tentang manusia mengetahui sesuatu, juga mencakup praktek atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum dibakukan secara sistematis dan metodis.

2)      Merupakan seperangkat pengetahuan yang sistematis

Ilmu pengetahuan haruslah disusun secara sistematis atau terurut dari materi yang mudah sampai materi yang sulit atau dari materi awal, tengah, dan akhir. Semua isi yang termasuk di dalamnya harus berurutan dan saling terkait atau terpadu yang memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya. Seperti halnya penyusunan sebuah buku atau sebuah makalah, penyusunannya haruslah berurut. Dalam sebuah makalah tersebut disusun secara sistematis dimulai dari bab pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, serta tujuan, bab pembahasan yang berisi jawaban dari rumusan masalah yang dimuat, lalu berisi penutup yang isinya simpulan dan saran.

3)      Memiliki metode yang efektif

Secara sederhana, metode dapat diartikan sebagai langkah – langkah yang harus ditempuh untuk menjelaskan objek yang dikajinya. Setiap ilmu pengetahuan memiliki objeknya masing-masing. Seperti sejarah objeknya adalah manusia sehingga sejarah dimasukkan ke dalam kelompok ilmu sosial. Metode atau dalam hal ini langkah – langkah untuk menjelaskan materi terkandung didalamnya. Agar nantinya apa yang terkandung di dalam ilmu tersebut tidak salah diinterprestasikan oleh orang yang mempelajarinya.

4)      Bersifat objektif

Yang berarti ilmu pengetahuan itu merupakan sesuatu yang pasti dan bukan merupakan prasangka atau hanya sebuah dugaan yang tanpa disertai dengan bukti yang nyata.

5)      Memiliki objek

Dalam sebuah cabang ilmu harus terdapat objek, yang dalam ini akan dikaji dalam ilmu tersebut, baik berupa peristiwa atau hal lain yang nantinya akan dijadikan bahan kajian yang disusun secara sistematis dankajiannya disertai dengan langkah – langkah pemahamannya.

6)      Menggunakan pemikiran yang logis dan rasional

Sosiologi pendidikan merupakan hasil pemikiran yang biasanya bersumber dari fakta-fakta atau kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat. Dan ilmu pengetahuan didasarkan atas kegiatan berpikir secara logis, serta dengan menggunakan rasio (nalar) dan hasilnya dapat diterima oleh nalar manusia, bukan yang dibuat – buat atau asal bunyi tanpa ada alasan yang logis (irrasional). Pada bagian sejarah perkembangan sosiologi sudah terlihat jelas munculnya sosiologi sebagai hasil dari pemikiran para ahli terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Fenomena masyarakat itu dikaji oleh pikiran, bukan oleh perasaan.

7)      Empiris

Kesimpulan yang diambil harus dapat dibuktikan melalui pemeriksaan dan pembuktian panca indra, serta dapat diuji kebenarannya dengan fakta dan data yang ada yang didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga).

8)      Dapat memberikan prediksi atau perkiraan

Ilmu pengetahuan dapat memberikan prediksi atas kejadian – kejadian  yang akan datang sesuai dengan ciri – ciri dan teori. Seperti prediksi turunnya hujan, perubahan iklim, dan lain – lain.

9)      Bersifat dinamis

Yang berarti ilmu pengetahuan tersebut selalu berubah – ubah sesuai dengan perkembangannya. Pada ciri ilmu pengetahun yang bersifat dinamis ini biasanya hanya berlaku pada ilmu sosial, yang mengkaji keadaan alam tempat tinggal masyarakat dan masyarakat tersebut.

       Maka dari ciri – ciri tersebut, sosiologi pendidikan dapat digolongkan pada salah satu bentuk ilmu pengetahuan atau lebih dikenal dengan social science.

       Selain memenuhi hal – hal diatas, sosiologi juga memiliki karakteristik sebagai ilmu yang bersifat khusus sebagaimana disebutkan oleh Harry M. Johnson (dalam Ahmad Zaeni, 2011), yang menjelaskan:

  1. Sosiologi pendidikan bersifat empiris, artinya sosiologi pendidikan tersebut didasarkan pada observasi (pengamatan) terhadap keyakinan dan akal sehat, serta hasilnya tidak bersifat spekulatif, melainkan objektif.
  2. Sosiologi pendidikan bersifat teoretis, artinya sosiologi pendidikan itu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan antarhubungan dan sebab akibat, sehingga menjadi teori.
  3. Sosiologi pendidikan bersifat kumulatif, artinya teori-teori sosiologi pendidikan dibentuk berdasarkan teori-teori yang sudah ada. Jadi sosiologi pendidikan memperbaiki, memperluas, dan memperhalus teori-teori yang sudah ada itu.
  4. Sosiologi pendidikan bersifat nonetis, artinya yang menjadi inti persoalan dalam sosiologi pendidikan bukanlah baik buruknya suatu fakta, melainkan tujuan yang hendak dicapai dengan menjelaskan fakta tersebut.

       Jadi, berdasarkan hal – hal diatas maka sosiologi pendidikan sudah dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena telah sesuai dengan hal diatas dan telah bersifat universal. Maksudnya universal adalah ilmu sosiologi pendidikan telah ada dan diakui di dunia sebagai cabang dari ilmu sosial.

One thought on “Sosiologi Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s